Fase pertama dari proses investasi terdiri
dari identifikasi startup target.
Di akhir kegiatan ini, ketika peluang
investasi yang paling menarik telah teridentifikasi, para perantara harus mengevaluasi
profil startup target secara mendalam.
Pada titik ini, tahap yang paling rumit dari
keseluruhan proses terdiri dari evaluasi komprehensif terhadap startup
dan strukturnya. Selain karakteristik umum pengusaha, faktor-faktor lain
dipertimbangkan, termasuk posisi pasar dan potensi lokasi startup,
pertumbuhan nilai, kemampuan teknologi, dan kemungkinan divestasi
kepemilikan saham.
Jika analisis ini mengarahkan investor untuk
membuat keputusan yang menguntungkan, investor akan berurusan dengan penstrukturan
operasi dalam hal waktu dan metode pelaksanaan.
Ini akan diikuti oleh fase negosiasi
yang bertujuan untuk menentukan harga. Dalam fase ini, keputusan
mengenai waktu pencairan pinjaman dan metode pembayaran akan
menjadi krusial, mulai dari peningkatan modal hingga pembelian saham
dari mitra lama.
Setelah kepemilikan diperoleh, investor harus memantau
operasi, terus-menerus mengikuti tren startup yang diinvestasikan,
untuk mendeteksi dan menyelesaikan masalah apa pun tepat waktu. Dalam fase ini,
investor dapat berkontribusi langsung pada manajemen startup target
dengan menunjuk manajer.
Tahap terakhir adalah yang paling kritis dan
terdiri dari divestasi, yang hasilnya menentukan keuntungan atau
kerugian investor institusional. Dana investasi biasanya
memiliki jadwal keluar (exit) yang telah ditentukan sebelumnya,
mengikuti perjanjian kontraktual dana tersebut.
Operasi divestasi umumnya direncanakan dalam cara dan
waktunya pada saat investasi awal. Namun, proyek awal sering kali mengalami
perubahan yang tidak terhindarkan, selalu berkaitan dengan tujuan investor
untuk memaksimalkan Return on Invested Capital (ROIC) mereka
dibandingkan dengan WACC (Weighted Average Cost of Capital)
(menciptakan nilai jika ROIC > WACC.
Pendapatan Operasional
- Biaya
manajemen (Management fees)
- Dividen
- Keuntungan
modal bersih (Net capital gains)
- Biaya
operasional/OPEX (Operating costs)
Return on Invested Capital (ROIC), atau Pengembalian atas Modal yang Diinvestasikan, adalah metrik
keuangan penting yang mengukur efisiensi dan profitabilitas suatu
perusahaan dalam menggunakan semua modal yang telah diinvestasikan ke dalamnya.
Sederhananya, ROIC memberi tahu investor berapa
banyak keuntungan (return) yang dihasilkan perusahaan dari setiap dolar
modal yang telah ditanamkan oleh pemegang saham dan pemberi pinjaman.
Weighted Average Cost of Capital
(WACC) adalah rata-rata biaya modal yang harus dibayar oleh perusahaan untuk
membiayai asetnya, dengan mempertimbangkan proporsi masing-masing sumber modal
seperti ekuitas (saham) dan utang (hutang). WACC digunakan sebagai acuan untuk
menilai apakah suatu proyek atau investasi layak dilakukan, karena mencerminkan
tingkat pengembalian minimum yang harus dicapai agar perusahaan dapat memuaskan
pemegang saham dan kreditur.
WACC mencerminkan biaya rata-rata dari semua sumber modal yang digunakan, serta menjadi tolak ukur untuk menilai kelayakan investasi dan struktur modal perusahaan.
Ketika ROIC > WACC: Perusahaan menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi daripada biaya modalnya. Perusahaan tersebut menciptakan nilai ekonomi positif bagi pemegang saham dan krediturnya. Ini menunjukkan manajemen menggunakan modal dengan sangat efisien.
Ketika ROIC < WACC: Perusahaan menghasilkan pengembalian yang lebih rendah daripada biaya modalnya. Perusahaan tersebut menghancurkan nilai ekonomi (disebut value destruction). Ini menunjukkan modal yang digunakan terlalu mahal atau manajemen tidak efisien dalam menggunakannya.
No comments:
Post a Comment